Hubungan Agama dan Kesenian

Dalam konteks hubungan agama dan kesenian, kalangan pesantren selalu saja terbelah. Misalnya jika ada pameran lukisan, kelompok pertama dengan segera akan menyergap, tak ada gunanya, bahkan tindakan itu dianggap telah bersekutu dengan setan karena melanggar batas syar’i. Terkait jawaban ini, mereka biasanya lalu menyodorkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di hari Kiamat adalah perupa.” Karena perupa (pelukis, pemahat dan pematung) dianggap “menyaingi” Allah, dengan “menciptakan” makhluk.

Ditulis juga dalam hadis tersebut, kelak perupa itu akan dimintai pertanggung-jawaban untuk memberi nyawa; jika tidak sanggup, mereka akan disiksa. Dalam riwayat Muslim yang lain, diterangkan Sayyidah Aisyah mendapatkan hadiah kain yang ada gambarnya (lukisan) dari pembesar Dinasti Romawi, lalu ia membentangkan kain itu di rumahnya, Nabi yang mengetahui itu kemudian bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung.” Demikianlah sederet dalil yang biasa digunakan untuk mengharamkan gambar dan patung.

Sementara kelompok yang kedua yang mendukung; punya alasan bahwa berkesenian adalah sifat intuitif alamiah seorang manusia. Dan islam hampir di segala bidanga menyerukan pemeluknya untuk selalu berkreasi (mencipta). Alasan yang berasal dari dalil shahih, misalnya bisa ditemukan dalam hadis Riwayat Bukhari dan Muslim: “Bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan“.

Kenapa umat Islam terpecah dalam dua kelompok seperti itu? Sejarawan muslim ulung  Khalil Abdul Karim dalam bukunya “Al-Judzurut Tarikhiyyah li Syari’atil Islamiyah”  berkesimpulan, karena ada dua kecenderungan pada umat Islam, yang pertama melihat hukum (nash) secara tekstual an-sich, dan yang kedua melihatnya secara tekstual dan kontekstual. Terkait dengan hadis di atas, ia berpendapat dalam ranah sejarah Islam awal (asbabul nuzul), itu terkait dengan paganisme, yaitu patung saat itu menjadi pujaan (Tuhan). Sementara Islam datang hendak menegakkan ajaran tauhid dan menghancurkan segala bentuk kemusyrikan itu. Patung yang dikenal oleh bangsa Arab ketika Islam lahir di Hijaz tidak bertujuan untuk seni, tapi sebagai tuhan dan sesembahan.

Karena itu, Menurut Ahmad Amin dalam karyanya, “Fajrul Islâm” (Fajar Islam) tentu tak layak jika menilai hasil seni (lukisan) yang bertujuan kesenian itu dalam koridor hukum fikih, misalnya haram dan tidaknya, salah dan benarnya, akan tetapi seharusnya indah atau tidaknya.

Pertemuan Islam dan Kebudayaan

Seperti penjelasan di atas, Islam dan kesenian seringkali digambarkan sebagai dunia yang berbeda, sulit dipertemukan. Agama berisi aturan dan norma moral, sementara kesenian mengeksplorasi kreatifitas dan kebebasan. Di banyak tempat ketegangan antar dua kelompok ini kadang tak terelakkan. Tapi dalam kenyataannya, apa yang pernah dicapai Islam dalam mewujudkan peradaban dunia, kaum seniman dan ulama bisa berdialog dan bersandingan. Misalnya yang terjadi pada pembangunan Masjid Nabawi (Masjid Nabi) di Madinah, Masjid Jami’ Al-Umawi (Masjid Umayyah) di Damaskus, dan Qubbat as-Sakhra (Kubah Batu) di Yerusalem merupakan sebagian contoh di Arab.

Peradaban Islam itu mencapai puncaknya (golden age) pada masa Dinasti Umayyah di Damaskus (Siria) dan Dinasti Abbasiah di Baghdad (Irak). Islam tidak sekedar bersinggungan dengan seni rupa, sastra, teater, musik, dan arsitektur yang luar biasa indahnya, tapi juga turut mewarnai nafasnya. Sementara pengaruh islam pada kebudayaan kita, itu misalnya bisa kita temukan pada arsitektur Menara Kudus, Jawa Tengah, yang merupakan percampuran simbol Islam dan Hindu. Pada bangunan peninggalan Sunan Kudus itu terdapat pula tempat bersuci berupa arca berkepala sapi (hewan keramat umat Hindu). Menaranya pun mirip candi, penanda adanya dialog-estetis seni religius. Masih banyak contoh lain yang serupa dalam sepanjang zaman di berbagai negara.

Dari sederat sejarah itu bukankah sudah cukup sebagai saksi, bahwa hubungan antara islam dan kebudayaan tak bisa dipisahkan, sebab keduanya saling membutuhkan. Karena terbukti, hadirnya agama bisa mewarnai nafas kebudayaan, dan hadirnya kebudayaan bisa memperkaya seperangkat hukum dan seluk beluk agama. Kalau begitu bukankah sudah seharusnya keduanya terus bisa diupayakan berdialog dan bersandingan. Kerena sejatinya seni itu punya kehendak untuk memperjuangkan martabat kemanusiaan. Dan itu sama halnya dengan agama, ia berangkat dari pemaknaan bahwa sesungguhnya ajaran (agama) juga bertujuan memuliakan manusia.

Pesantren dan Kesenian

Di negeri ini, kita bisa menemukan hubungan yang sangat harmonis antara Islam dan kesenian itu ada pada pesantren. Kenapa demikan? Karena watak pesantren selalu apresiatif terhadap kebudayaan lokal. Karena watak pesantren yang demikian ini, kehadirannya bisa diterima di khalayak luas. Hal ini bisa dibuktikan dengan kenyatan historis penyebaran Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para wali. Nikii Keddie (1987), pengamat agama Islam asal Timur Tengah itu berpendapat watak dan ciri khas inilah yang menjadi pembeda dengan Islam-Arab dan tentu saja kebangggan Islam sebagai peradaban di Asia Tenggara. (Islam and Society in Minangkabau and in the Middle East: Coparative Reflections, dalam Sojourn, Volume 2, No. 1 Tahun 1987)

Dan sampai sekarang pesantren masih mempertahankan watak aslinya; yaitu ia memiliki tradisi unik dan unggul yang tidak ditemukan di negara lain. Salah satu keunikan tersebut adalah tradisinya dalam mengembangkan warisan keilmuan ulama salaf (salafus shalih). Misalnya dengan pola pengajaran sorogan, blandongan dan hafalan nadzaman berupa puisi liris arab. Selain itu yang menjadi ciri khasnya adalah seperangkat busananya, seperti memakai sarung, peci, baju koko dan lain sebagainya, yang semua itu asli dari warisan pribumi (bukan Arab). Tak heran jika Abdurrahman Wahid  berani mengambil kesimpulan bahwa pesantren adalah sebuah subkultur.

Hasil dari persinggungan itu, tak mengherankan jika para “santri”banyak menghasilkan karya-karya berkelas dunia dengan nilai seni yang luar biasa indahnya, seperti beberapa nama yang dapat disebut di antaranya adalah KH Ma’shum Ali dengan al-Amtsilatut Tashrifiyah, KH Hasyim Asy’ari dengan Syair-Syair Ahlul Bait, KH Bisri Mustofa dengan Al-Ibriz, KH Abdul Hamid dengan Nadzam Sulam Taufiq dan lain sebagainya. Karya tersebut menjadi referensi penting dalam setiap kajian maupun pengajian dilingkungan pesantren.

Karena itu, tak syak, Islam sebagai agama dan pesantren sebagai alat dakwahnya terbukti mampu tampil secara kreatif berdialog dengan masyarakat setempat (lokal), berada dalam posisi yang menerima kebudayaan lokal, sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat setempat dan masih berada di dalam jalur Islam.

Oleh Aguk Irawan MN *Penulis adalah Anggota Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia) PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta
nu.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: