Pemikiran Keislaman dan Keindonesiaan Gus Dur dalam Menghadapi Tantangan Bangsa

Sudah setahun KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal. Namun, mantan presiden yang juga mantan ketua PBNU ini telah meninggalkan berbagai pemikiran-pemikiran baik soal kebangsaan keindonesiaan hingga keagamaan keislaman kepada generasi penerusnya. Bagi PMII sendiri pemikiran keislaman dan keindonesiaan yang dibawa Gus Dur sering menjadi acuan dalam arah geraknya.
Dalam pemikiran keislamannya Gus Dur senantiasa mendorong pemikiran Islam untuk senantiasa berharmoni dengan perkembangan jaman. Gus Dur juga amat menghargai pluralitas dalam Islam, dengan itu diskursus tentang Islam akan terus dan semakin hidup, sehingga pemahaman atas Islam semakin inklusif, tidak eksklusif. Islam sendiri hakikatnya bersifat inklusif, selalu terbuka untuk ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman, dengan tetap tidak kehilangan roh sejatinya yang toleran dan menyampaikan pesan-pesan damai.
Sebagai seorang mantan presiden dan negarawan, Gus Dur menelurkan banyak pemikiran keindonesiaan bagi negeri ini. Kesadaran beliau akan pluralitas, multikilturalitas, dan keberagaman agama di Indonesia, dijaga dengan indah oleh beliau, tugas kita semua adalah termasuk negara adalah menjamin kehidupan yang multi ini agar tetap rukun, damai, dan tidak terjadi konflik. Gus Dur juga amat melindungi hak kelompok minoritas dan golongan lemah lainnya dalam masyarakat, contohnya terhadap masyarakat Tiong Hoa, yang baru-baru ini merayakan imlek. Gus Dur juga sangat menyayangkan munculnya kelompok-kelompok garis keras yang dengan dalih kelompok mayoritas melakukan kezaliman terhadap minoritas. Menurut beliau kelompok mayoritas sudah seharusnya mengayomi dan melindungi kelompok minoritas, bukan berbuat seenaknya. Gus Dur juga berperan dalam mendorong demokratisasi dalam negeri ini. Pancasila dan UUD 1945 ditegaskan sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara ini bukan negara agama, tetapi juga bukan negara atheis. Artinya, agama melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara bukan dalam pengertian formalisme agama, tetapi agama menjadi roh kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pemikira-pemikiran Gus Dur tersebut seharusnya sangat relevan dalam menghadapi kasus-kasus yang dihadapi bangsa ini. Namun, seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini muncul berbagai kasus kekerasan berlatar belakang agama, seperti penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik, dan pembakaran gereja di Temanggung. Belum lagi masalah korupsi yang tiada hentinya hingga kemerosotan moral bangsa. Keadaan tersebut harus menjadi bahan pemikiran kritis bagi kita para mahasiswa, bagaimana seharusnya menyelesaikan permasalahan bangsa itu dan bagaimana kita berperan, setelah merefleksi pemikiran-pemikiran yang dibawa Gus Dur.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: