Para Wanita Penggerak Revolusi: Review Film In The Time of The Butterflies

Film In The Time of The Butterflies ini adalah film yang bersetting di Republik Dominika, menceritakan kisah nyata Mirabal bersaudari yang kesemuanya perempuan yang menentang kadiktatoran rezim Trujillo. Namun karena penentangannya Mirabal bersaudari mencapai ajalnya, mereka juga sering disebut sebagai Kupu-Kupu bersaudari. Kematian dan perjuangan mereka pada akhirnya turut mendorong revolusi di Republik Dominika yang berhasil menumbangkan kediktatoran Trujillo.
Dari tahun 1930 hingga 1961 Jenderal Leonidas Trujillo berkuasa secara diktator di Republik Dominika. Kediktatorannya untuk berkuasa menjadikan dia dapat dengan lama menguasai Republik Dominika. Rumus kekuasaannya agar berlangsung lama adalah menghabisi siapapun yang menentangnya. Karena itu pada masa kekuasaannya dia telah membunuh lebih dari 30.000 rakyat Dominika.
Di masa kekuasannya itulah di sebuah desa kecil di Dominika ada keluarga Mirabal, keluarga yang tinggal di peternakannya yang luas. Keluarga Mirabal mempuanyai 4 anak yang kesemuannya perempuan. Mereka adalah Patria, Dede, Minerva, dan Maria Teresa (Mate). Diantara keempat anak itu, Minerva adalah anak yang paling kritis dan banyak bicara.
Masalah mulai muncul ketika Minerva dan kakaknya ingin meninggalkan desanya untuk bersekolah di kota. Walaupun dengan berat ayah mereka akhirnya mengijinkan. Jadilah Minerva dan kakanya bersekolah di sebuah sekolah gereja. Di situlah Minerva mulai bertemu dengan Jefe Trujillo, pada saat Trujillo menghadiri pementasan di sekolahnya. Pada saat pementasan itu juga Minerva kecil mulai tersadar dengan realitas yang ada tentang Trujillo, dengan kejadian kawannya yang ingin membunuh Trujillo karena ingin membalas dendam kepada trujillo yang membunuh keluargannya, dan temannya lagi yang cantik diambil Trujillo untuk dijadikan istri. Selanjutnya juga diketahuinya, kawannya yang ingin membunuh Trujillo hilang, dan kawannya yang dikawini Trujillo dibuang di Miami.
Selepas bersekolah, Minerva kembali ke peternakan keluarga Mirabal, ia mempunyai cita-cita untuk kuliah hukum dan menjadi pengacara. Hal tersebut sebenarnya mustahil, karena di republik Dominika saat itu, wanita tidak boleh kuliah hukum apalagi menjadi pengacara. Di tengah kebimbangannya itu, dia bertemu dengan Virgilio (Lio) seorang mahasiswa hukum, yang akhirnya menjadi cinta pertama Minerva. Lio memberikan buku hukum yang cukup revolusioner kepada Minerva untuk dikenangnya dan nama Buttrfly (Kupu-Kupu). Pada selanjutnya diketahui bahwa Lio merupakan bagian dari para pejuang revolusioner yang melawan rezim Trujillo. Karena itu hubungannya tidak disetujui oleh keluarganya karena takut membahayakan nyawa mereka.
Karena kuatnya tekanan rezim Trujillo kepada para pembangkang Lio dan kawan seperjuangannya memutuskan untuk pergi ke luar Dominika dan meneruskan revolusinya dari luar negeri dan menghindar dari kejaran rezim Trujillo, walaupun pada akhirnya Lio dan kawan-kawannya tetap mati di luar negeri karena dibunuh tentara bayaran Trujillo. Hubungan Minerva Mirabal dengan Lio sang pemberontak bukannya tidak diketahui Trujillo, karena itu ia juga mendekati keluarga Mirabal.
Pada suatu ketika secara tiba-tiba keluarga Mirabal mendapat undangan dari Jefe Trujillo untuk menghadiri pesta kenegaraannya. Hal yang mengejutkan lagi Minerva diberikan tempat khusus di jamuan makan itu di tempat Jefe biasanya bersama istri-istrinya. Nampaknya Trujillo sengaja ingin memanfaatkan kecantikan Minerva sekaligus melihat hubungannya dengan para pemberontak. Di pesta tersebut Trujillo mengajak berdansa bersama Minerva, dan kejadian yang menegangkan terjadi ketika Trujillo mulai melakukan kegiatan yang tidak senonoh kepada minerva saat berdansa, secara refleks Minerva menampar muka Trujillo sang diktator Republik Dominika. Kejadian yang akan membekas dan mempengaruhi kehidupan keluarga Mirabal selamanya.
Kejadian itu membuat seluruh keluarga Mirabal ketakutan akan tindakan yang akan dilakukan Trujillo kepada mereka. Ayah Minerva segera mengirimkan permintaan maaf kepada Trujillo. Namun nampaknya tidak cukup, sang ayah diminta untuk mempertanggungjawabkan tindakan anaknya dengan dijebloskan ke penjara. Minerva sangat terpukul atas kejadian itu dan berusaha membebaskan ayahnya bagaimanapun caranya. Titik terang muncul saat kepala polisi di wilayahnya memberi jalan dengan meminta Minerva menemui langsung Jefe Trujillo.
Minerva menemui langsung Jefe Trujillo untuk berusaha membebaskan ayahnya. Trujillo menawarkan ayahnya akan bebas dan bisa pergi dengan keluarganya, jika Minerva tetap tinggal di istana Trujillo (untuk menjadi gundiknya mungkin). Namun Minerva menolak akhirnya Trujillo membuat permainan dengan dadu, jika Trujillo menang, Minerva harus tinggal bersamanya dan ayahnya bebas dan pergi bersama ibunya, namun jika Minerva menang ayahnya bebas dan dia bisa pergi dengan ayah dan ibunya. Minerva menyetujui dengan penambahan syarat, jika ia menang dia harus boleh bersekolah di sekolah hukum. Dan pada akhirnya Minerva memenangkan perjudian itu, dan dia akhirnya boleh pergi dan membebaskan ayahnya.
Ternyata tidak seindah itu, ayahnya memang bebas namun dengan bekas penyiksaan fisik dan psikologis yang berat sehingga dia meninggal tak lama setelah dibebaskan. Kejadian itu yang membuat Minerva lebih bersemangat untuk kuliah hukum dan ‘membalas’ kematian ayahnya dengan bertekad menumbangkan Trujillo dengan kemampuannya membela rakyat dengan ilmu hukumnya.
Di universitasnya belajar Minerva akhirnya juga menemui anggota lain dari kaum revolusioner terpelajar yang melawan kediktatoran Trujillo, yaitu sahabat Lio yang mengenal Minerva sebagai Butterfly yang nantinya dia menjadi suami Minerva. Di situlah dimulai konsolidasi gerak dari mahasiswa-mahasiswa dan rakyat yang mulai melakukan gerakan kesadaran dan perlawanan terhadap penindasan Trujillo dimana Minerva menjadi salah satu motornya dengan sandi Buterfly. Saudarinya Mate akhirnya turut bergabung dengan gerakan itu untuk turut membalaskan dendam kematian ayahnya.
Gerakan yang dilakukan Minerva dengan kawan-kawannya terus dilakukan untuk membangkitkan kesadaran rakyat untuk melawan penindasan berlangsung terus sejak mereka di bangku kuliah. Minerva pun menikah dengan pemimpin dari gerakan itu. Antiklimaks dari perjuangan Minerva untuk bersekolah hukum terjadi saat kelulusan dimana Trujillo yang memberikan ijazah mereka, Minerva tidak diberikan ijazah oleh Trujillo dengan dalih perjudian mereka lakukan dulu adalah agar minerva kuliah hukum, bukan untuk bisa berpraktek sebagai pengacara.
Tidak diakuinya kemampuan hukum yang dipelajari Minerva tidak membuatnya putus asa, bahkan perjuangannya melawan Trujillo lebih nyata lagi. Minerva bersama Mate dan suaminya bahkan mulai memulaikan perjuangan bersenjata dengan menyelundupkan senjata untuk melawan Trujillo. Selain itu mereka juga memperluaskan propoganda perlawanan terhadap Trujillo dengan menggandeng para pemuka agama dan tuan tanah yang masih peduli. Dengan cepat kepopularitasan para pejuang ‘Kupu-Kupu’ membahana ke rakyat Dominika.
Gerah dengan gerakan pembangkangan ini, pasukan Trujillo akhirnya menggerebek kediaman saudari Minerva tempat mereka menyimpan senjata dan menjebloskan Minerva, Mate dan suami-suami mereka ke penjara. Penangkapan Minerva dan saudarinya malah menjadikan mereka semakin populer bagi rakyat, bahkan para sipir penjara dan tahanan lain mendukung mereka dengan semangat ‘hidup kupu-kupu’.
Karena tekanan dari dunia luar dimana Trujillo semakin menurun kredibilitasnya karena dugaan perencanaan pembunuhan presiden Venezuela dan buruknya perlakuan terhadap tahanan serta pelanggaran HAM. Minerva dan Mate akhirnya dibebaskan oleh Trujillo setelah mereka meminta tolong kepada petugas PBB yang menjenguk mereka. Namun tidak bagi suami-suami mereka yang masih dipenjara.
Setelah dibebaskan, Minerva dan saudari-saudarinya meneruskan untuk berjuang, khususnya berjuang untuk membebaskan suami mereka. Perjuangan mereka nampaknya berhasil ketika Trujillo menemui Minerva di rumahnya untuk menerima terimakasih dan berkata akan membantu mereka. Akhirnya Minerva dan Mate diberi kesempatan untuk menemui suami mereka di penjara.
Ternyata itu adalah kesempatan terakhir yang diberika Trujillo untuk mereka bertemu suami mereka. Setelah menemui suami mereka di penjara, di perjalanan pulang Minerva, Patria, dan Mate dihentikan oleh orang-orang Trujillo dan mereka dibunuh dengan sadis bersama-sama di sebuah perkebunan. Kematian Mirabal bersaudari menjadi salah satu pemicu dari perlawanan-perlawanan rakyat lain yang memuncak pada jatuhnya kekuasaan Trujillo yang terbunuh 6 bulan kemudian. Hari kematian mereka 25 November di Amerika Latin ditetapkan sebagai hari internasional melawan kekerasan terhadap perempuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: