Resensi Film-Film Fobia

Film fobia yang dimaksud adalah film dokumenter dari Discovery Channel yang membahas fobia. Dalam film itu diperlihatkan berbagai kasus fobia yang dialami dan bagaimana cara mereka berusaha menyembuhkan fobianya, dibawah ini hanya 4 dari banyak contoh fobia yang dibahas dalam film itu.

  1. Fobia Publik

Film ini diawali dengan penjelasan fobia bisa berasal dari perilaku yang diturunkan, bayi menjadi takut karena melihat ibunya ketakutan. Dalam sebuah penelitian, kera dalam laboratorium belajar ketakutan pada ular ketika ia melihat kera liar yang ketakutan pada ular, padahal sebelumnya kera dalam laboratorium tidak ketakutan. Juga dikatakan rasa takut adalah normal sebagai reaksi pertahanan diri, namun fobia adalah ketakutan yang tidak normal, bagi orang fobia menghindari atau melawan rasa takutnya menjadi hal yang bisa dilakukan untuk terbebas dari rasa fobia itu. Fobia juga bisa terjadi karena pengalaman masa kecil, itu terbukti pada kasus percobaan little Albert pada 1920-an.

Pengidap fobia mungkin bisa menghindari benda atau situasi menakutkan. Namun penderita fobia di tempat publik akan sulit untuk menghindar. Film ini menceritakan tentang fobia berbicara di depan umum yang merupaka fobia yang paling umum. Manusia sejak dahulu bergantung dengan perasaan untuk diterima, dan perasaan ditolak dalam sosial sudah sangat tertanam dalam diri manusia. Film ini menceritakan Kathleen Labarr yang mengalami fobia berbicara di depan umum ketika ia berada di podium gereja, perasaan yang dialaminya ia merasa ketakutan dengan wajah orang-orang yang melihat, dengan kecemasan apakah penampilannya baik, suaranya baik, dan berbagai kecemasan lain.

Untuk mengatasi fobianya Kathleen melakukan terapi dengan Denis Becker di Boston yang menggunakan terapi perilakuan yang memperlunak dampak kecemasan pada fobia nyata. Dalam terapinya terapis ini menggunakan perangkat kepala simulasi, dengan alat virtual ini Kathleen mencoba berpidato menggunakan alat yang terpasang di matanya yang menampilkan simulasi dari orang-orang yang menyaksikannya berpidato. Dengan alat ini terapis dapat mengontrol suasana dalam simulasi dan memberikan reward yang datang dari penonton dalam simulasi virtual. Walau dapat sedikit menurunkan fobianya saat simulasi, namun ketika dalam situasi nyata hasilnya belum terlalu terlihat.

 

  1. Fobia Roler Coaster

Dalam film ini menceritakan Beth Smith, seorang ibu yang sangat membenci sensasi yang ia dapatkan ketika ia menaiki roller coaster, sementara anaknya Jake justru sangat menyukainya. Terakhir kali mereka bersama menaiki roller coaster, perilaku yang diperlihatkan Beth adalah sesak napas, dan berteriak histeris baik saat di roller coaster dan setelah turun. Hingga saat itu Beth tidak lagi mau menaiki roller coaster.

Di Orlando psikolog klinis, Dr. Mike Otto memeakai terapi perilaku untuk merubah perilaku phobia pada roller coaster hanya dalam 1 jam untuk mengubah cara mereka berpikir. Cara yang ia lakukan adalah memberikan penjelasan dan meyakinkan kepada kliennya sensasi fisik yang dirasakan saat menaiki roller coaster tidak perlu negatif. Selain itu agar mereka juga dapat menikmati sensasi itu dan lebih nyaman, sehingga adanya rasa kehabisan napas dan lainnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan, tapi mencoba berpikir lain bahwa hal itu juga merupakan sumber keceriaan.

Dalam terapi ini, klien dihadapkan untuk belajar mengatasi sensasi fisik secara nyata dengan menaiki roller coaster. Meskipun tentunya menaiki roller coaster tidak akan memnbahayakan nyawa mereka, namun sensasi ketakutan yang dialami fobia tentu akan terasa nyata. Beth bersama para klien bersama-sama menaiki roller coaster untuk mencoba mengalami kembali pengalaman yang pernah membuat mereka takut, namun dengan sudut pandang baru untuk dapat menikmati sensasi yang ada. Terapis turut serta dalam roller coaster itu dan mengajak kliennya untuk menikmati rolller coaster itu.

Setelah melakukan kegiatan terapi perilakuan dengan menaiki roller coaster yang membuatnya fobia. Perasaan yang dialami beth sudah mulai berubah, meskipun masih belum 100% mengubah fobia menjadi keceriaan. Dan dengan usahanya dan terapi yang singkat itu paling tidak dia tidak ketakutan lagi.

 

  1. Fobia Terbang

Film ini dimulai dengan penjelasan bahwa orang fobia mungkin biasa menghindari hal yang membuatnya fobia untuk mengatasi ketakutannya. Namun, hal tersebut bisa jadi berdampak besar pada hidup mereka. Seperti yang terjadi pada Diane Lindbald yang mengalami fobia terbang, meskipun ia berasal dari Seattle, namun sudah 3 tahun ia tinggal di Irlandia Utara. Ketakutannya pada terbang yang snagat ekstrim membuatnya tidak berani pulang untuk bertemu keluarganya di Seattle dan bertahan selama 3 tahun di Irlandia Utara yang terpisahkan samudra yang amat jauh. Keadaan tersebut membuat dampak psikologis yang kurang menyenangkan bagi Diane dan keluarganya.

Karena berkeinginan untuk pulang Diane memutuskan mengambil kursus takut terbang, agar dia tidak takut lagi terbang dan bisa pulang. Kursus itu berada di Manchester yang berada di Inggris jauh dari Irlandia utara, namun Diane tidak mau menaiki pesawat dan memilih menaiki kereta dari Irlandia Utara ke Dublin, irlandia. Dan dari Dublin naik feri ke tanah britania dan menuju Manchester dan membutuhkan 8 hingga 10 jam, dibanding terbang yang hanya butuh 50 menit.

Dan kursus terbang Diane dilakukan di bandara Manchester, setalah kursus dialnjutkan dengan naik pesawat langsung. Dalalm kursus itu mencoba mengungkap bagaimana pesawat tetap mengudara yang diberikan oleh para pilot dan awak udara. Dengan pendekatan terapi perilaku untuk memberikan rasa nyaman para peserta sebelum nantinya diberikan efek flooding diajak terbang dengan pesawat secara singkat.

Ketika di dalam pesawat, pemberian efek flooding dengan terbang langsung, kapten pesawat memberikan langsung terapinya untuk merilekskan dan meyakinkan serta mendukung peserta agar berani untuk terbang. Meskipun tidak semua peserta dapat mengatasi kecemasannya, hingga ada yang panik hingga turun dari pesawat. Dan ketika berhasil terbang, meski masih nampak kecemasan dan ketakutan, Diane mencoba bertahan.

Setelah setengah jam perjalanan mereka turun lagi. Namun secara drastis belum mengurangi fobianya pada terbang. Tetapi paling tidak dapat menjadi awal walaupun belum sepenuhnya ia dapat melawan fobianya untuk dapat bertemu keluarganya kembali.

 

  1. Fobia Tikus

Film ini menceritakan Kristeen Keeler di Norfolk Inggris yang amat takut pada tikus. Ia juga merasa terapi perilakuan bisa menjadi amat traumatis bagi dirinya. Bahkan jikapun ada uang yang yang boleh diambil di kandang tikus ia tidak akan pernah melakukannya. Karena ia tinggal di pedesaan artinya hampir tiap sudut rumah bisa dikunjungi tikus. Hal itu sangat mengganggu bagi Christine, artinya ia harus sangat hati-hati dalam memperlakukan perabot rumahnya meskipun hanya ditemui kotoran tikus pun. Bahkan ia tidak mampu mengetik dan menulis kata tikus.

Namun ketakutannya pada tikus diimbangi pada kecintaaanya pada merpati. Karena hal itu ia dipertemukan dengan seorang yang mengalami fobia pada bulu dan burung dalam sebuah riset, dan mereka saling bertukar pengalaman akan fobianya.  Studi yang dilakukan pada mereka berdua melihat apa yang terjadi pada otak ketika mereka mengalami fobia. Mereka dimasukkan dalam alat pemindai dan diberikan gambar-gambar benda yang menjadi fobia mereka. Hasilnya yang dilihat pada Christine, reaksi takut normal melibatkan amygdala, namun ketika dihadapkan pada fobianya yaitu tikus yang bereaksi adalah hipokampus bagian yang memproses ingatan emosi. Atas penemuan itu ingatan Christine kembali pada sumber awal ia mengalami fobia itu adalah saat ibunya tidak sengaja memasak tikus dalam oven.

Bagi Christine metode penyembuhan tanpa bertemu objek fobianya seperti pada terapi perilaukan bisa sangat menarik. Karena itu ia mengikuti terapi yang bernama Terapi Medan Pikiran, penerapis ini mengatakan jika ia adalah orang yang mampu menyembauhkan terbanyak dalam sejarah karena penyembuhannya ahanya dalam hitungan menit bahkan hanya melalui telepon. Maka Christine mencoba menghubungi penerapis itu Dr. Callahan, Dr Callahan berasumsi penyembuhan fobia paling efektif dengan menekan titik-titik akupuntur pada tubuh, dan Christine diminta melakukan menekan-nekan pada beberapa titik, setalah 15 menit, Christine diminta melihat gambar tikus, namun masih belum berhasil. Teknik aneh yang dipakai Dr. Callahan agak membingungkan Christine, bahkan ia disuruh melingkarkan handuk pada lehernya untuk menghindari alergi pada kausnya yang diasumsikan Dr. Callahan. Namuan Dr Callahan tetap berusaha, karena ia bekerja atas dasar, tidak berhasil tidak perlu bayar. Namun, Christine tetap tidak merespon positif karena merasa aneh dengan terapi yang dijalani.

Dan pada akhirnya Christine pun menjalani terapi perilaku, dengan menulis kata tikus sebanyak-banyaknya, melihat gambar tikus, lalu menghadapinya secara nyata dan akhirnya kini ia sembuh. Dan ketika ia sembuh otaknya dipindai lagi dan hasilnya tak ada perubahan hipokampus saat ia melihat gambar tikus dan tak ada tanda ketakutan pada otaknya

2 Tanggapan

  1. kalo boleh tau apa ya jdul film dokumenter ttng fobia nya itu, kdngrannya menarik..

  2. film fobia publik judulnya apa ya? kok gak ada aku cari. tolong infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: